Kunjungan Persahabatan (3)

Dalam kunjungannya ke Sekolah Santo Yoseph pada 19-26 September 2011, Mr Adriano De Luca (Emmaus College) berkesempatan menyapa siswa/i TK Santo Yoseph. Kunjungan ini adalah dalam rangka meningkatkan hubungan kerjasama sister school antara Santo Yoseph dan Emmaus College, Melbourne, Australia.

Kunjungan Persahabatan (2)

Dalam kunjungannya ke Sekolah Santo Yoseph pada 19-26 September 2011, Mr Adriano De Luca (Emmaus College) berkesempatan melihat siswa/i SMP Santo Yoseph berlatih marching band. Kunjungan ini adalah dalam rangka meningkatkan hubungan kerjasama sister school antara Santo Yoseph dan Emmaus College, Melbourne, Australia.

Kunjungan Persahabatan (1)

 

Dalam rangka lebih mempererat hubungan kerjasama Sister School antara Sekolah Santo Yoseph dan Emmaus College, pada 19-26 September 2011, Mr Adriano De Luca (Guru Musik Emmaus College) mengunjungi Santo Yoseph Jakarta. Selain bertemu staf dan siswa di sekolah, Mr Adriano juga berkesempatan mengunjungi Jogjakarta dan Bandung.

Koor Siswa TKK dan SD Santo Yoseph di Gereja Kota Wisata

Minggu, 02 Oktober 2011 pada Perayaan Ekaristi pukul 08.30, siswa Taman Kanak Kanak dan SD Santo Yoseph akan melaksanakan tugas paduan suara di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata, Cibubur, Bogor. Tak ketinggalan diiringi musik kolintang. Sekolah Santo Yoseph di Perumahan Harvest City, Cileungsi, Bogor berada di Paroki ini. Semoga bisa melaksanakan tugas memuji dan memuliakan Tuhan dengan sebaik mungkin.

 

Suyatno, Bermodal Becak Sekolahkan Anak Hingga Lulus Dokter di UGM

Sumber : www.detiknews.com (8/9/2011)

Yogyakarta РSiapa bilang pengayuh becak tak bisa melahirkan seorang dokter? Buktinya Suyatno, seorang pengayuh becak di Yogyakarta, berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus dokter dari UGM. Perjuangannya membuktikan tidak ada kerja keras yang sia-sia.

“Anak saya, Agung Bhaktiyar masuk Fakultas Kedokteran UGM tahun 2005 lulus dilantik jadi dokter pada pertengahan tahun 2011,” kata Suyatno saat tampil di hadapan ribuan orangtua mahasiswa baru UGM di Gedung Graha Sabha Pramana (GSP), Bulaksumur, Yogyakarta, Kamis (8/9/2011).

Pria 63 tahun itu layak berbangga sang putera meraih gelar sarjana kedokteran dari salah satu universitas ternama, tanpa harus banyak mengeluarkan biaya. Maklum, anaknya mendapat beasiswa saat kuliah di Fakultas Kedokteran.

Menurut Suyatno, Agung adalah anak bungsu dari empat saudara yang satu-satunya kuliah. Sedang tiga kakaknya, setelah lulus sekolah menengah langsung bekerja. Agung sebelumnya merupakan lulusan SMA 6 Yogyakarta.

Setelah dilantik menjadi dokter, Agung menjadi dokter magang di rumah sakit di Wates Kulonprogo. “Dia selama sekolah baik saat SMA maupun kuliah juga tidak macam-macam dan tidak banyak meminta kepada orangtua. Karena tahu kalau orangtuanya tidak punya uang,” lanjut Suyatno.

Suyatno sehari-harinya bekerja menjadi pengayuh becak sejak tahun 1975. Dia biasanya mangkal di sekitar Hotel Santika di Jalan Sudirman Yogyakarta.

Bersama istri dan anaknya, Suyatno tinggal di kawasan Ledok Kali Code di Kampung Terban, Kecamatan Gondokusuman Yogyakarta. Saniyem, istrinya bekerja sebagai pengumpul barang rongsokan. Dari menarik becak, dia mendapat penghasilan sekitar Rp 20-30 ribu per hari.

“Ini anugerah bagi keluarga kami dan kami sekeluarga bangga. Alhamdulilah selama dia kuliah dapat beasiswa terus,” ucap Suyatno yang masih akan terus bertahan di bawah terik matahari Yogya dengan becaknya.

Menyumbangkan seorang dokter pada Ibu Pertiwi mungkin sebelumnya tak pernah dibayangkan Suyatno. Namun dengan kemauan kuat anak dan dukungan keluarga membuktikan segala hal bisa terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa.

(bgs/vit)